S1 Sistem Informatika - FSTT ISTN Jakarta | Semester Ganjil 2025/2026
Dalam dunia sistem informasi modern, data adalah bahan bakar yang membuat sistem bisa berpikir dan mengambil keputusan. Tanpa data, sistem hanyalah kumpulan kode yang tidak tahu harus berbuat apa.
Namun, data saja tidak cukup. Sistem juga perlu memahami konteks - yaitu latar belakang situasi yang membantu sistem memahami makna dari data tersebut.
Bayangkan kamu punya toko online. Kamu tidak tahu siapa pembelinya, kapan mereka belanja, atau apa yang mereka sukai. Kalau tidak ada data, kamu tidak bisa memberi promo tepat sasaran, bukan?
Rumus sederhana:
| Jenis Data | Deskripsi | Contoh Konkret |
|---|---|---|
| 1. Data Transaksi | Data hasil interaksi langsung pengguna dengan sistem |
β’ Riwayat pembelian pelanggan β’ Jumlah produk yang dilihat/diklik β’ Nilai transaksi dan metode pembayaran β’ Frekuensi pembelian per bulan |
| 2. Data Perilaku | Data yang menggambarkan bagaimana pengguna berinteraksi dengan sistem |
β’ Waktu pengguna aktif (pagi/siang/malam) β’ Durasi membuka halaman tertentu β’ Urutan klik saat berbelanja β’ Scroll depth pada halaman produk |
| 3. Data Konteks | Data yang menjelaskan situasi atau kondisi di sekitar pengguna |
β’ Lokasi saat mengakses (Jakarta, Bandung) β’ Waktu akses (weekday/weekend) β’ Jenis perangkat (mobile/desktop) β’ Koneksi internet (WiFi/mobile data) |
| 4. Data Demografis | Data karakteristik pengguna |
β’ Usia dan jenis kelamin β’ Pekerjaan dan pendapatan β’ Pendidikan β’ Status pernikahan |
| 5. Data Sosial | Data interaksi sosial pengguna |
β’ Like, comment, share β’ Following/followers β’ Grup atau komunitas yang diikuti β’ Interaksi dengan brand |
Konteks berarti latar belakang situasi yang membantu sistem memahami makna dari data. Data yang sama bisa memiliki makna berbeda tergantung konteksnya.
π Skenario: Dua pengguna sama-sama mencari kata "kopi"
| Aspek | User A | User B |
|---|---|---|
| Waktu | Pukul 07.00 pagi | Pukul 22.00 malam |
| Lokasi | Di kantor (GPS) | Di rumah |
| Perangkat | Mobile | Desktop |
| Riwayat | Sering beli kopi siap saji | Sering beli kopi bubuk |
| Rekomendasi Sistem | β Kopi siap saji untuk kantor (ready to drink) | β Kopi instan sachet untuk santai di rumah |
Kesimpulan: Keyword yang sama, tapi rekomendasi berbeda karena konteks yang berbeda!
Sebuah sistem otonom biasanya melakukan 4 langkah utama dalam pengambilan keputusan:
| Tahap | Penjelasan | Contoh di E-Commerce |
|---|---|---|
| 1. Mengumpulkan Data | Sistem mengambil data dari berbagai sumber (user activity, transactions, logs) | User mencari "sepatu olahraga", mengklik 5 produk, menambah 1 ke cart, durasi 15 menit |
| 2. Menganalisis Pola | Mencari hubungan dan pola dari data yang terkumpul | Analisis: "User ini tertarik sepatu Nike, rentang harga 500k-800k, ukuran 42, sering belanja saat promo" |
| 3. Menentukan Aksi Otomatis | Membuat keputusan dan mengeksekusinya |
β Tampilkan sepatu Nike ukuran 42 range 500k-800k β Kirim notif "Promo Flash Sale Sepatu Nike 30%" β Tampilkan gratis ongkir untuk produk ini |
| 4. Belajar dari Hasil (Feedback) | Evaluasi apakah keputusan berhasil dan update model |
β’ Jika user beli β tingkatkan confidence untuk pola ini β’ Jika user ignore β coba strategi lain β’ Track conversion rate dan adjust algorithm |
Meningkatkan conversion rate dengan menampilkan produk yang tepat di waktu yang tepat untuk setiap pengguna berdasarkan data dan konteks mereka.
| Kategori Data | Detail yang Dicatat | Tujuan Pengumpulan |
|---|---|---|
| Perilaku Browsing |
β’ Produk yang dilihat β’ Kategori yang dikunjungi β’ Durasi view per produk β’ Scroll depth |
Memahami minat dan preferensi produk |
| Riwayat Transaksi |
β’ Produk yang dibeli β’ Frekuensi pembelian β’ Nilai rata-rata transaksi β’ Kategori yang sering dibeli |
Identifikasi pola pembelian dan budget range |
| Konteks Waktu |
β’ Jam akses (pagi/siang/malam) β’ Hari (weekday/weekend) β’ Periode gajian (awal/tengah/akhir bulan) β’ Event khusus (Harbolnas, 11.11) |
Timing untuk menampilkan promo dan rekomendasi |
| Device & Lokasi |
β’ Jenis perangkat β’ Kota/provinsi β’ Tipe koneksi β’ Bahasa yang digunakan |
Optimasi tampilan dan relevansi produk lokal |
| Interaksi Produk |
β’ Wishlist β’ Add to cart tapi tidak checkout β’ Rating dan review β’ Share produk |
Mengukur intensi pembelian dan trigger reminder |
| Konteks | Insight | Keputusan Sistem |
|---|---|---|
| Senin Pagi, Mobile, Commuting | User dalam perjalanan ke kantor |
β Tampilkan quick view produk β Highlight produk kebutuhan kantor β Easy one-click purchase |
| Jumat Malam, Desktop, Gajian | User punya waktu luang dan budget tersedia |
β Tampilkan produk premium/wishlist β Show flash sale dan limited edition β Tawarkan bundling deals |
| Minggu Sore, Mobile, Rumah | User santai browsing |
β Rekomendasi produk hobi dan hiburan β Content marketing (tips, tutorial) β Soft selling approach |
| Akhir Bulan, Desktop, Office | Budget terbatas, cari value for money |
β Highlight diskon dan cashback β Tampilkan produk range murah β Offer installment plans |
| KPI | Before | After | Improvement |
|---|---|---|---|
| Click-Through Rate (CTR) | 3.2% | 7.8% | +144% |
| Conversion Rate | 2.1% | 4.9% | +133% |
| Average Order Value | Rp 425,000 | Rp 580,000 | +36% |
| User Engagement Time | 9.4 menit | 14.2 menit | +51% |
| Cart Abandonment Rate | 71% | 48% | -32% |
π‘ Total peningkatan revenue: +47% dalam 6 bulan pertama implementasi
Spotify ingin memberikan pengalaman mendengarkan musik yang personal dengan memahami konteks situasi pengguna, tidak hanya preferensi genre.
| Dimensi | Data Points |
|---|---|
| Preferensi Musik | Genre favorit, artis yang diikuti, lagu yang di-save, skip rate per lagu |
| Konteks Waktu | Jam mendengarkan (workout pagi, commute, kerja, tidur), hari dalam minggu |
| Aktivitas | Running (detect via GPS+tempo), studying (low tempo), party (upbeat), relaxing |
| Mood | Inferred dari tempo lagu yang dipilih, lirik sentiment, playlist yang dibuat |
| Sosial | Teman mendengar apa, collaborative playlists, sharing behavior |
| Waktu | Konteks Terdeteksi | Rekomendasi Playlist | Karakteristik Musik |
|---|---|---|---|
| 06:00 - 07:30 | π Morning workout (GPS moving, high heart rate pattern) | "Beast Mode", "Workout Twerkout" | Tempo: 140-180 BPM, Energi tinggi, EDM/Hip-hop |
| 08:00 - 09:00 | π Commuting (GPS moving pattern, regular route) | "Morning Commute", "Feel Good Morning" | Tempo: 100-130 BPM, Uplifting, Pop/Indie |
| 09:00 - 17:00 | πΌ Working (stationary, weekday, desktop) | "Deep Focus", "Peaceful Piano" | Tempo: 60-90 BPM, Instrumental, Lo-fi/Classical |
| 19:00 - 22:00 | π½οΈ Evening relaxation (home, wind down pattern) | "Chill Vibes", "Acoustic Evening" | Tempo: 80-110 BPM, Mellow, Acoustic/R&B |
| 22:00 - 23:00 | π΄ Sleep preparation (declining activity, night mode) | "Sleep", "Peaceful Sleep" | Tempo: <60 BPM, Ambient, Nature sounds/Meditation |
Kesuksesan Spotify bukan hanya dari mengerti "lagu apa yang disukai user", tapi "lagu apa yang tepat untuk situasi user saat ini".
Ini membuktikan bahwa konteks sama pentingnya dengan preferensi dalam sistem rekomendasi yang efektif.
Masalah: Sistem kebanjiran data dari berbagai sumber, sulit memilah mana yang relevan.
Contoh: E-commerce mengumpulkan 50+ data points per user per session, tapi hanya 10% yang benar-benar berguna untuk keputusan.
Solusi:
Masalah: Preferensi dan situasi user berubah dengan cepat, model perlu update real-time.
Contoh: User biasanya suka produk fashion, tiba-tiba butuh elektronik karena laptop rusak.
Solusi:
Masalah: Pengumpulan data harus comply dengan GDPR, CCPA, UU PDP Indonesia.
Contoh: Tidak bisa sembarangan tracking lokasi GPS user tanpa explicit consent.
Solusi:
Masalah: Data yang tidak akurat atau tidak lengkap menghasilkan keputusan yang salah.
Contoh: User A dan B share akun yang sama, sistem tidak bisa distinguish preferensi mereka.
Solusi:
Masalah: User baru tidak punya historical data, sulit membuat rekomendasi personal.
Contoh: User pertama kali buka aplikasi, sistem belum tahu preferensinya.
Solusi:
| Priority | Data Type | Reasoning |
|---|---|---|
| High | Recent behavior (last 7 days) | Paling relevan dengan current intent |
| Medium | Purchase history (last 3 months) | Shows established preferences |
| Low | Demographic data | General guidance, kurang personal |
Jangan hanya rely pada satu konteks, tapi combine beberapa:
Selalu track apakah keputusan yang dibuat efektif, dan gunakan insight untuk improve algorithm.
Jangan terlalu fokus pada personalisasi sampai user stuck di filter bubble:
Contoh: Netflix recommend 8 film sesuai taste-mu, 2 film dari genre berbeda.
Instruksi:
Format Laporan:
Deadline: Sebelum pertemuan minggu depan
Topik: "Membangun Context-Aware Recommendation System"
Scenario: Kampus ISTN ingin membuat sistem rekomendasi mata kuliah pilihan untuk mahasiswa.
Deliverables:
Β© 2025 ISTN Jakarta - Fakultas Sains Terapan dan Teknologi
Dosen: Oni Bibin Bintoro, Riadi Marta Dinata